mendampingi suami kuliah di luar negeri
Padapertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN). Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship (AAS). Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat.
Diaada di fase yang berat, harus membagi fokus antara studi dan menjadi kepala keluarga. Studi di kampus luar negeri jelas tak sama dengan studi di universitas lokal, beban perkuliahan dan beban mental yang ditanggung lebih besar. Lain lagi jika pasanganmu harus menyambi kuliah dan bekerja di waktu yang sama. Maka peran kamu di sini sebegai
Sudahbikin sakit kepala ini. Sehingga seizin suami saya ingin kuliah lagi, agar punya ilmu yang bermanfaat dalam mendidik Lala ataupun anak-anak gifted lainnya," ungkap Patricia atas pergolakan batin yang terjadi saat itu. Akhirnya setahun setelah Lala mulai kuliah, Patricia mendaftar dan diterima di S2 Pendidikan Luar Biasa UNY angkatan 2016.
Mendampingisuami tugas di KBRI Tokyo (2003-2006) dan KBRI Sydney (2009-2013). Suka membaca, menulis dan traveling. Tulisannya pernah dimuat dimajalah Kartini dan Kompasiana. Motivasi menulis sebenarnya ingin menjawab pertanyaan teman-teman tentang kehidupan saat mendampingi suami dan ingin berbagi cerita selama mendampingi suami tugas di luar
Sejaksebelum menikah, saya sudah tau bahwa calon suami saya mungkin suatu hari nanti harus melanjutkan sekolah di luar negeri, bukan setahun atau dua.. tapi minimal tiga tahun. Sementara saya, yang dalam diri saya saat itu mengalir darah muda, tersimpan energi besar, dan haus untuk mengejar ambisi dan cita-cita di masa depan, tidak ambil pusing.
Site Rencontres Ile De La Reunion. Berangkat Ke Melbourne Pada pertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara CLTN. Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship AAS. Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat. Seperti yang saya alami, seorang ASN yang mengambil CLTN tidak akan mendapatkan gaji, tunjangan, dan masa kerja selama CTLN tidak akan dihitung. Masa kerja saya yang seharusnya 21 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun, baru akan saya terima 3 tahun lagi. Yang paling berat, selama cuti, tidak ada SMS Cinta dari 3355 bagi pengguna rekening Mandiri pasti tahu isinya. Pada umumnya ASN mengambil CLTN karena mengikuti suami/istrinya yang kuliah di luar negeri. Namun, ada juga ASN yang mengambil cuti jenis ini karena ingin merawat orang tua atau anak yang sedang sakit. Ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja di lembaga lain umumnya lembaga multinasional, memulai berbisnis, atau alasan lainnya sepanjang disetujui oleh instansi tempatnya bernaung. Bagi ASN yang sudah menduduki jabatan, maka konsekuensi dari pengambilan CLTN adalah kehilangan jabatan. Padahal, saat itu saya sudah menduduki jabatan kepala kantor. Ketika kembali aktif maka akan memulai lagi dengan posisi pelaksana. Akankah bisa kembali ke jabatan semula? Saya berserah diri pada Allah SWT. Prosedur pengajuan CLTN yang saya lakukan adalah sebagai berikut Membuat surat permohonan cuti dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alasan CLTN yang saya ajukan adalah mengikuti suami yang studi di Victoria University, Melbourne. Dokumen yang saya sampaikan adalah surat bahwa dia diterima kuliah Letter of Acceptance. Surat permohonan cuti diajukan ke pejabat yang menangani kepegawaian. Di lingkungan kerja saya pejabatnya adalah Sekretaris Badan. Surat ini kemudian disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara BKN melalui Biro SDM kementerian. Surat CLTN diproses oleh BKN dan akhirnya nota persetujuan disampaikan kepada Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa saya sedang melaksanakan CLTN untuk periode tertentu sesuai dengan masa studi suami. Setelah izin cuti keluar, maka saya pun terbang ke Melbourne untuk menyusul suami yang sudah berangkat 4 bulan sebelumnya. Alhamdulillah, untuk keperluan pembuatan visa untuk masuk ke Australia ditangani langsung oleh perwakilan AAS di Jakarta. Aktivitas Keseharian di Melbourne Selama melaksanakan cuti, saya tinggal di Melbourne mengurus anak-anak dan suami selama 24 jam tanpa pembantu. Saya sangat menikmati cuti ini karena selama ini semua urusan anak-anak saya serahkan ke asisten rumah tangga. Jarang sekali saya ikut mempersiapkan sarapan dan bekal mereka ke sekolah. Di Melbourne saya harus menyiapkan sarapan di pagi hari, bekal makan siang, dan juga makan malam untuk keluarga. Untunglah sekolah anak-anak dimulai jam 9 pagi sehingga saya masih bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak di sekolah. Sampai 6 bulan, saya benar-benar menikmati suasana cuti. Saya mengantar anak ke sekolah di pagi hari, lanjut berbelanja ke pasar, berbenah rumah dan memasak makan siang, lalu kembali menjemput anak. Kadang setelah mengantar anak, berdua dengan suami, saya berjalan-jalan ke pantai atau hanya berkeliling di taman-taman sekitar rumah atau sekolah anak. Kadang kala kami berdua pergi ke tempat teman di suburb lain. Kursus Bahasa Inggris Namun, karena terbiasa dengan aktivitas di kantor seharian penuh, saya mulai kangen dengan beragam aktivitas dari pagi hingga sore. Saya pun mulai mengikuti kursus bahasa Inggris di VU English. Suami saya adalah penerima awardee beasiswa AAS Australian Award Scholarship sehingga spouse pasangan awardee berhak mengikuti perkuliahan bahasa Inggris selama 5 minggu penuh. Setelah selesai dengan kegiatan kursus bahasa Inggris maka saya memberanikan diri untuk mengambil Certificate III in early childhood education. Sebagai seorang temporary resident, saya harus membayar penuh biaya kursus ini yang mencapai A$750, terdiri atas tuition fee A$700 dan registrasi sebesar A$50. Bagi permanent resident, mereka hanya diharuskan membayar biaya registrasi $50, tetapi biaya kursus gratis ini hanya berlaku bagi kursus yang pertama. Jika permanent resident itu mengambil kursus yang kedua dan seterusnya, mereka juga harus membayar penuh. Kursus diikuti bersama para permanent resident yang berasal dari berbagai bangsa. Ada Divya yang orang India, Bouakham dari Laos, Skye yang orang asli Australia, Sarita yang baru migrasi dari Pakistan, dan Grace perempuan Filipina yang baru saja menikah dengan bule Australia. Rupanya keberagaman budaya peserta menjadikan kami diminta untuk mempertunjukkan di depan kelas atau membawa makanan khas dari negara masing-masing. Pada saat diminta mempertunjukkan lagu anak-anak Indonesia, saya membawakan lagu Pelangi karya AT Mahmud. Enam bulan berlalu dan saya pun akhirnya mendapatkan sertifikat. Sebenarnya dengan sertifikat itu, saya bisa bekerja membuka bisnis daycare di rumah dan mendapatkan penghasilan yang melebihi jumlah uang beasiswa yang diterima suami saya. Namun karena sifat bisnis ini yang full-day dan saya dalam mode liburan, maka saya tidak menggunakan kesempatan itu. Bekerja di Vicmart Untuk mengisi waktu, saya mencoba bekerja di Queen Victoria Market Vicmart sebagai penjaga toko. Saya bekerja 3 hari dalam seminggu dari jam Bos saya adalah seorang perempuan Vietnam yang baik hati bernama Lily. Bagaimana ceritanya saya bisa bekerja di Pasar Vicmart? Tetangga saya dimintai tolong oleh Lily untuk mencarikan teman Indonesia yang bisa menjaga tokonya. Kenapa mesti orang Indonesia? Rupanya para pedagang di Vicmart sangat senang karakter orang Indonesia yang mereka percayai untuk menjaga tokonya. Orang Indonesia dinilai bekerja dengan hati, rendah hati, dan jujur. Mereka membutuhkan tiga karakter ini karena penjaga toko akan memegang uang minimal $ per hari. Para pemilik toko tidak pernah menghitung jumlah barang yang terjual untuk satu hari karena mereka percaya para pegawainya yang orang Indonesia tidak akan mengambil sedolar pun uang yang dipegang dari hasil aktivitas jual-beli. Karakter inilah yang harus terus dipertahankan oleh orang Indonesia jika ingin orang Indonesia berikutnya mudah mendapatkan kerja di pasar Vicmart. Bekerja di Vicmart menambah pergaulan saya dengan para pemilik toko di sana. Ada yang berasal dari Thailand, Skotlandia, Italia, juga China. Mereka semua sangat baik dan ramah. Jika saya tidak jaga toko satu hari saja, mereka akan menanyakan kenapa kemarin nggak masuk. Bahkan, terkadang mereka membagi makanan yang dibawa. Biasanya berupa kue-kue. Bisnis Tempe Kecil-Kecilan Selain bekerja di pasar, saya juga membuat dan menjual tempe segar. Ada cerita ketidakpuasan yang menjadi alasan saya mempelajari cara pembuatan tempe dan setelah berhasil saya menjual tempe segar. Setelah beberapa minggu hidup di Melbourne, saya kangen makan tempe. Atas informasi dari teman, saya menemukan tempe beku frozen di toko vegetarian. Saya baca labelnya, tempe beku itu buatan Malaysia. Lalu saya memperkirakan bahwa tempe tersebut dibuat berbulan-bulan sebelum saya beli. Juga rasanya terbilang aneh, tidak seperti rasa tempe yang biasa kita beli di Indonesia. Mulailah saya dan suami googling tentang pembuatan tempe. Beberapa kali mencoba, akhirnya tempe pun jadi. Ragi pun kami impor dari Surabaya, sementara kedelainya kami pakai kedelai lokal Australia. Tempe percobaan pun jadilah. Kami kemudian meng-upload-nya di WAG. Tak disangka langsung banyak pesanan dari tetangga sekitar rumah. Dari mulut ke mulut akhirnya kemampuan saya membuat tempe segar didengar orang dan banyak teman dititipi oleh teman-temannya yang di luar wilayah saya. Akhirnya tempe segar ini bisa dinikmati oleh warga Melbourne karena saya posting di media sosial. Sambutan orang-orang Indonesia dengan adanya tempe segar ini bermacam-macam. Ada yang bilang senang banget sampai ada yang menciumi tempe tersebut, sampai saya juga akhirnya mbrebes mili terharu. Bahkan ada orang-orang Indonesia yang tinggalnya di luar kota Melbourne sampai memesan seminggu sebelumnya, supaya ketika mereka ke Melbourne, tempenya sudah jadi. Selain menjual tempe segar, saya juga membuat tempe mendoan, dan kering tempe. Artinya, saya memikirkan diversifikasi produk untuk menambah nilai jual. Di situlah saya memahami bahwa untuk menambah nilai jual sebuah produk ada upaya pengolahan dan bahan baku lain yang menyertai. Upaya inilah yang akhirnya menyebabkan harga jual lebih tinggi dibandingkan masih berbentuk tempe. Dari berjualan tempe akhirnya saya banyak mengenal warga Indonesia lainnya yang tinggal di Melbourne. Sampai sekarang pun kami masih kontak baik melalui WA ataupun medsos. Biasanya saya dan pembeli janjian bertemu di Melbourne Central Station pada jam tertentu. Untuk pembayaran, pembeli mentransfer uangnya ke rekening suami karena saya tidak punya rekening Australia. Begitulah hari-hari saya di Melbourne, hingga tak terasa waktu 3 tahun pun berlalu dengan cepat. Sebuah pengalaman manis yang tak akan saya lupakan. Pertengahan 2017 saya kembali ke Jakarta, berdua saja dengan si bungsu. Sementara si sulung masih tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan kelas 7, menemani bapaknya yang studinya diperpanjang karena ketiadaan supervisor.***
Priscila Bellini - 13/06/2017Quem deseja fazer intercâmbio — seja por poucos meses, ou uma pós-graduação que dure anos — não precisa abrir mão da companhia do parceiro. Afinal, passar um tempo no exterior não precisa ser uma experiência individual, e é compartilhada por muitos casais. Ainda que sejam mais escassas, existem bolsas de estudo para o “intercâmbio a dois”. Nesses casos, um dos parceiros é contemplado e o outro segue como acompanhante. Mas o que muda quando um aluno decide estudar fora e quer levar o cônjuge para o país de destino? Para começar, é necessário verificar quais são os critérios estabelecidos pelo país para conceder o visto a ambos. Por exemplo, pode ser requisitada uma certidão de casamento, para comprovar o vínculo dos dois. Vale lembrar que alguns países, como é o caso dos Estados Unidos, costumam equiparar casais que são casados aos que têm outros vínculos legais, como as chamadas “civil unions”. No caso de casais homoafetivos, portanto, a regra seria a mesma — então, vale conferir nos editais se tal correlação é estabelecida. Outro ponto essencial, quando se fala em intercâmbio, refere-se ao orçamento. Para quem não conta com uma bolsa de estudos, por exemplo, esse fator pesa ainda mais. De acordo com o país de destino, há exigências mínimas para que o estudante consiga um visto, e os requisitos mudam quando se vem acompanhado. Entre as mudanças, está a alteração no valor mínimo “em caixa” exigido pelos setores de imigração. Em vez de ter o valor equivalente a três meses vivendo no país, o período exigido pode ser o dobro ou o triplo do original. Há ainda programas que permitem ao cônjuge que chega junto com o estudante a permissão para trabalhar, em cargos full-time ou part-time. Tech Fellow O programa de bolsas exclusivo para apoiar talentos que desejam revolucionar o setor de tecnologia no Brasil. Faça sua inscrição! Diante desse cenário, alguns editais passaram a oferecer o que se chama de “family allowance”, uma espécie de complemento para a família. A ideia é que, ao trazer o marido ou a esposa, o aluno possa contar com apoio extra para despesas do dia a dia e mesmo seguro-saúde. No caso da Suécia, por exemplo, tanto o companheiro quanto os filhos do estudante contam com o mesmo pacote de serviços em saúde. Conheça algumas das bolsas de estudo que oferecem o family allowance para os estudantes e entenda como tais programas funcionam. Marie Skłodowska-Curie Actions Individual Fellowships Essa é a bolsa que pretende apoiar “os melhores e mais promissores pesquisadores de qualquer lugar do mundo”. A proposta vem da Comissão Europeia, o órgão executivo do bloco europeu. As chamadas MSCA voltam-se para as ciências, mas não têm limitação de área específica. No caso do Brasil, entretanto, a Comissão destaca campos prioritários, como pesquisas em bioeconomia, segurança alimentar, agricultura sustentável e energia, entre outras áreas de atuação. As Individual Fellowships focam em profissionais experientes, que tenham dedicado ao menos quatro anos à pesquisa. A bolsa inclui não apenas as despesas com os estudos, como também a viagem ao país de pesquisa, na União Europeia. O dinheiro, que é encaminhado à instituição à qual o pesquisador está ligado uma universidade no Brasil, por exemplo, também cobre as despesas pessoais e da família do pesquisador. Quando o parceiro tem um vínculo por meio do matrimônio, ou uma ligação equivalente, recebe um valor extra de 500 euros por mês, independentemente do país em que desenvolve sua pesquisa. Fundação Alexander von Humboldt AvH Uma das instituições mais renomadas da Alemanha, a AvH apoia pesquisadores e pesquisadoras em diversas áreas, da sustentabilidade à gestão pública. Ao todo, há uma rede de mais de ex-bolsistas os chamados alumni que já foram contemplados pelas bolsas de estudo. Uma das bolsas mais conhecidas da instituição é o programa German Chancellor Fellowship for Tomorrow’s Leaders. No caso desse programa em específico, que aceita quem tem apenas a graduação, o foco recai sobre projetos de pessoas com uma trajetória ou acadêmico ou profissional que demonstrem futura liderança na sua área de atuação. Para os bolsistas que pretendem trazer seus parceiros à Alemanha, a organização oferece, “dependendo das condições do orçamento”, um apoio financeiro a mais, no valor de 276 euros. Também pode ser negociado um valor a mais no caso de filhos dependentes. Na hora da application para tais benefícios, é necessário encaminhar documentos como a certidão de casamento. Konrad-Adenauer-Stiftung A Konrad Adenauer KAS é uma organização vinculada ao partido da chanceler Angela Merkel, o CDU União Democrata-Cristã. A KAS ficou conhecida por financiar projetos e estudos voltados para a formação política da sociedade e também oferecer diversas bolsas nas áreas de ciências sociais. Além dos 920 euros pagos ao estudante de pós-graduação, o programa concede um auxílio a mais no caso daqueles que trazem o cônjuge à Alemanha. É necessário que o companheiro permaneça por, no mínimo, três meses e que comprove o vínculo com uma certidão de casamento. No caso de casais que têm filhos, é possível requisitar uma quantia complementar, de 184 euros por mês. Escreva uma minibiografia para constar no seu perfil. Essas informações poderão ser vistas por todos.
Se você estiver em um relacionamento, uma das decisões mais difíceis na hora de viajar para estudar no exterior vai ser ficar longe da pessoa que você ama. Como aproveitar a experiência sem ter a sua namorada ou o seu namorado ao seu lado? Uma opção possível é manter o relacionamento a distância até que o seu curso acabe! Mas antes da decisão definitiva, é aconselhável ter uma conversa muito sincera com você mesmo -Eu serei capaz de aproveitar a oportunidade sabendo que ele/ela vai ficar? -Vou conseguir me concentrar nos estudos e trabalhos? -A distância vai atrapalhar o meu desempenho? -Nós confiamos um no outro o suficiente? -Nosso relacionamento é forte para aguentar a distância? O autoconhecimento é tão importante quanto saber a opinião da sua namorada/do seu namorado. Após responder estas questões pessoais, cabe ter uma conversa franca com ela/ele. Exponha os seus planos de estudar no exterior, explique porque e quanto a experiência é importante para você e peça a ajuda e compreensão dela/dele. Se depois de tudo isso, você decidir viajar, chegou a hora de planejar como será a rotina do casal enquanto ficam longe. ATENÇÃO para facilitar, daremos as dicas do ponto de vista de quem parte usando o masculino. Mas são válidas para todos se você vai ou se você fica; se tem namorado ou namorada. 1. Entender as mudanças A primeira coisa a se fazer é entender que tudo irá mudar para quem parte e tudo continuará o mesmo para quem fica. Enquanto você passa pelo processo de adaptação ao novo ambiente, conhece novos lugares incríveis, faz novas amizades, aprende muita coisa, etc., a sua namorada continua na mesma rotina de sempre, e pior sem você. Por isso, é muito importante compreender os sentimentos de quem ficou para evitar brigas e ressentimentos. Coloque-se sempre no lugar da pessoa. Você também vai precisar que ela se coloque no seu lugar, porque a adaptação ao novo ambiente nem sempre é fácil. Os primeiros dias ou até semanas serão agitados e a saudade pode bater muito forte – e se transformar facilmente em arrependimento de ter partido. Passar por este período inicial será uma provação e exige o esforço e a compreensão dos dois. 2. Comunicação Passado o choque inicial, é hora de estipular uma rotina. O mais importante é a comunicação entre vocês. No entanto, diferente do que possam imaginar, manter uma comunicação muito constante pode ser prejudicial. Graças aos novos aplicativos, como Whatsapp, Messenger e Skype, é possível trocar mensagem o tempo todo – literalmente! Apesar de ter toda essa facilidade ser incrível e deve, com certeza, ser utilizada a favor do relacionamento, estar o tempo todo em contato pode ser prejudicial. Logo, as mensagens não terão mais tanto conteúdo, vocês ficarão sem assunto e correm o risco de se tornarem extremamente dependentes um do outro – e até mesmo possessivos. Coisas como “cadê você?” e “por que você não me respondeu?” serão ditas. A cobrança começará a pesar. É importante lembrar que você terá muitos compromissos e responsabilidade com os estudos, da mesma forma que a sua namorada ainda terá o trabalho e/ou os estudos com que se preocupar. Além disso, possivelmente haverá diferença de fuso-horário entre pare agora... Tem mais depois da publicidade ; 3. Horários fixos para ligações O ideal é achar brechas nas suas agendas e estipular horários fixos para conversar. Por exemplo na sua hora do almoço e à noite, quando os dois já estiverem livres. Reserve estes períodos exclusivamente para a sua namorada – nada de falar com ela enquanto faz a lição de casa ou compartilha a sala com seus amigos. Claramente, isso não quer dizer que vocês não podem trocar mensagens ou deixar de responder a pessoa fora do horário marcado; só é essencial que vocês não se tornem dependentes dos aplicativos e da “presença virtual” um do outro o tempo inteirinho, a ponto de atrapalhar o seu desempenho nos estudos e de prejudicar a sua experiência no exterior. 4. Conversa com vídeo Quando for a hora marcada de conversar, façam questão de utilizar apps que permitam o chat por vídeo! A conversa por escrito abre uma ampla margem para o mal-entendido e a má interpretação. O vídeo possibilita ver as reações faciais e ouvir a entonação da pessoa. Sem contar que é uma delícia ver e ouvir a sua namorada. 5. Mantenham uma rotina A falta de comunicação pode ser tão prejudicial quanto o excesso. Uma vez estipulados os horários para conversar, mantenham a rotina. Conte sobre o seu dia e se mostre interessado sobre o dia dela, mesmo que não tenham feito nada de interessante. 6. Fidelidade e ciúmes Outra coisa que deve necessariamente ser bem esclarecida é a questão da fidelidade. Em um relacionamento à distância, o ciúme pode ser o maior causador de brigas e até mesmo de términos. Há quem consiga ter um relacionamento aberto. Se este for o caso de vocês, estipulem regras bem claras. Vocês estão permitidos a ficar com outras pessoas durante o tempo distante? O relacionamento consegue sobreviver a isso? Esclareçam este assunto antes de partir e atenham-se às suas regras. Se o relacionamento for exclusivo, é importante confiar na pessoa. Acusações, insegurança e possessividade serão como veneno e logo causarão turbulências no relacionamento. OUTRAS DICAS Troquem cartas! É muito romântico receber cartas e mostra que vocês dedicaram parte do seu dia para escrever à mão um para o outro. A espera pela resposta também é muito boa. Leve algo dela com você uma peça de roupa com o perfume dela, uma pelúcia, um travesseiro, etc. Presenteiem-se antes de partir! Uma ideia legal é fazer um álbum de foto ou um scrapbook do relacionamento. Tenha um porta-retrato com a foto dela no seu quarto. Façam planos para o futuro juntos. Planejem a sua volta. Crie uma conta em algum serviço de compartilhamento gratuito para que você possa fazer álbuns de fotos particulares. Assim, a sua namorada acompanha sua viagem, vê também os lugares quer você estiver conhecendo e não se sente tão excluída. Apresente os seus novos amigos à sua namorada por vídeo chat. Esta é outra forma de fazer com que ela se sinta incluída. Para quem fica se possível, planeje uma viagem para visitar o seu namorado!
Kamu mau ikut suami yang akan atau sedang studi di luar negeri? Excited tentunya, bisa jadi kesempatan honeymoon kedua. Tapi jangan terlalu senang dulu ya, sebelum kamu pastikan kamu sudah menyiapkan semuanya. Ada banyak yang perlu disiapkan sebelum kamu berangkat mendampingi pasanganmu studi di luar negeri. Mulai dari mengurus Visa, mencari tempat tinggal, hingga belanja barang-barang yang perlu dibawa. Persiapan material yang demikian memang penting, tapi ada hal yang nggak kalah penting untuk kamu siapkan agar keharmonisan hidup kalian di sana tetap terjaga. Menjadi pendamping suami yang sedang studi di luar negeri itu tak semudah yang kamu kira. Penting sekali untuk memiliki pemahaman dan persiapan mental sebelum kamu pindah ke luar negeri untuk mendampingi suami. Karena jika kamu berangkat dengan mindset dan ekspektasi yang salah, maka dampaknya bisa fatal ke kehidupan rumah tangga. Sudah ada contoh pasangan-pasangan yang berpisah karena istri yang mendampingi suaminya studi salah ekspektasi. Jangan sampai ini terjadi ke kamu ya. Lalu apa saja hal yang perlu kamu pahami untuk menjaga keharmonisan rumah tangga saat mendampingi suami studi di luar negeri? Silakan simak poin-poin di bawah ini. a. Di kisah ini, suamimu tokoh utama, kamu peran pendukungnya Tujuan kamu berangkat ke luar negeri adalah untuk mendampingi pasanganmu yang akan melanjutkan studi. Tentunya kalian sepakat bahwa dengan bersama-sama, maka akan lebih baik bagi kalian berdua. Tapi yang perlu kamu pahami adalah, dalam bab kehidupan kalian yang ini, suamimu lah tokoh utamanya. Dia ada di fase yang berat, harus membagi fokus antara studi dan menjadi kepala keluarga. Studi di kampus luar negeri jelas tak sama dengan studi di universitas lokal, beban perkuliahan dan beban mental yang ditanggung lebih besar. Lain lagi jika pasanganmu harus menyambi kuliah dan bekerja di waktu yang sama. Maka peran kamu di sini sebegai pasangan adalah menyediakan support system’ baginya. Tujuan utama kamu adalah memastikan kalian melewati fase ini dengan minim drama. Untuk itu, kadang kamu perlu mengesampingkan egomu dan fokus ke apa yang suamimu butuhkan. Kamu juga harus paham jika dia tak punya banyak waktu untuk membawamu jalan-jalan, dan kalau di rumah pun dia punya banyak kerjaan. Karena kembali lagi, studi di luar negeri itu berat sekali. Oleh karena itu, sebagai pendamping yang fungsinya memberikan support, kamu harus memudahkan apa yang bisa dimudahkan, jangan justru mempersulit keadaan. Banyak-banyak bersabar, coba lebih pengertian, dan jangan mudah berkecil hati. b. Tapi, pemeran pendukung juga perlu punya story arc sendiri Meski suamimu tokoh utama dalam chapter hidup kalian saat ini, bukan berarti kamu harus total mendedikasikan seluruh jiwa raga untuk mendukungnya dan lupa memenuhi kebutuhanmu sebagai makhluk sosial juga. Justru setelah kamu selesai dengan diri sendiri lah baru kamu bisa menjadi provider support yang baik bagi suami. Jadi, di samping tugas utama menjadi pendamping suami, kamu juga perlu merawat diri. Merawat diri di sini maksudnya menjaga kesehatan jiwa dan raga. Tak hanya fisik yang fit, tapi kesehatan mental kamu juga perlu dijaga. Penting untuk punya rutinitas yang mendukungmu agar tetap produktif selagi suamimu fokus menyelesaikan studinya. Berolah raga rutin, membaca buku, menulis, atau mencoba hobi yang baru bisa membuat hari-harimu lebih penuh makna. Selain itu, jangan lupa untuk keluar dan mengeksplorasi kota, jangan hanya stay di rumah saja. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di kota domisilimu yang baru. Jika kamu terbiasa bekerja sebelum ikut suami, maka kamu bisa mencari part time job kalau peraturan imigrasi mengizinkan bekerja atau volunteering opportunity yang sesuai dengan minatmu. Banyak organisasi yang mencari sukarelawan, dan ini merupakan kesempatanmu untuk bertemu orang baru yang mungkin bisa dijadikan teman. Kalau tak ingin bekerja, kamu juga bisa mendaftar kelas bahasa atau short course lainnya. Yang penting adalah kamu punya rutinitas yang memotivasi kamu untuk tetap berpikir positif dan merasa produktif. Namun, jangan sampai kamu punya terlalu banyak aktivitas sampai malah jadi tak punya waktu untuk suami ya. c. Komunikasi menjaga balance antara kamu dan dia Balance itu perlu dijaga, dan di sini komunikasi menjadi kunci. Kamu dan suami harus saling terbuka dan memiliki modus operandi rumah tangga yang disepakati bersama. Saling mengingatkan agar tak terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing itu penting juga. Meski sama-sama sibuk, jangan lupa juga untuk menghabiskan waktu bersama. Momen tinggal di luar negeri mendampingi suami yang sedang studi bisa menjadi tantangan bagi keutuhan rumah tangga jika kamu tak membekali diri dengan persiapan mental dan penyesuaian ekspektasi. Namun, jika tantangan ini bisa kamu lalui, maka justru pengalaman hidup di luar negeri akan lebih menguatkan hubunganmu dengan suami. Dan bagaimana akhir chapter ini, yang menentukan adalah dirimu sendiri.
mendampingi suami kuliah di luar negeri